Connect with us

Business News

Pertamina Pastikan Pertamax yang Beredar Saat Ini Bukan Campuran Pertalite

Wikimedia Commons/Akhmad Fauzi

SPILLS.CO.ID, Jakarta – Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, memastikan bahwa BBM Pertamax (RON 92) yang dijual di SPBU di Indonesia telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Migas.

“Pertamax yang dijual sudah sesuai dengan spesifikasi Migas untuk produk dengan RON 92,” kata Heppy, Selasa (25/2/2025).

Pernyataan ini muncul setelah terungkapnya dugaan kasus korupsi yang menyeret Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan (RS). RS diduga melakukan pembayaran untuk produk kilang RON 92 (Pertamax), tetapi BBM yang dibeli adalah jenis RON 90 (Pertalite). BBM RON 90 tersebut kemudian dicampur di depo untuk menjadi RON 92.

Spesifikasi BBM Pertamax

Berdasarkan dokumen “Spesifikasi Produk BBM, BBN, dan LPG” dari Pertamina, yang mengacu pada SK Dirjen Migas No. 179.K/10/DJM.S/2019, spesifikasi BBM Pertamax adalah sebagai berikut:

  • Bilangan Oktan Riset (RON): 92
  • Stabilitas oksidasi: Minimal 480 menit
  • Kandungan sulfur: Maksimal 0,05% m/m
  • Kandungan timbal (Pb): 0,013 g/l
  • Kandungan oksigen: 2,7% m/m
  • Kandungan aromatik: Maksimal 50% v/v
  • Kandungan benzena: Maksimal 5,0% v/v
  • 10% Vol Penguapan: Maksimal 70 derajat Celsius
  • 50% Vol Penguapan: 77-110 derajat Celsius
  • 90% Vol Penguapan: 130-180 derajat Celsius
  • Titik didih: 215 derajat Celsius
  • Residu: 2% vol
  • Sedimen: Maksimal 1 mg/100 ml
  • Unwashed Gum: Maksimal 70 mg/100 ml
  • Washed Gum: Maksimal 5 mg/100 ml
  • Tekanan Uap: 45-60 kPa
  • Berat jenis: 715-770 kg/m kubik
  • Korosi bilah tembaga: kelas 1 merit
  • Sulfur Mercaptan: Maksimal 0,002% massa
  • Penampilan visual: Jernih dan terang
  • Warna: Biru
  • Kandungan pewarna: Maksimal 0,13 g/100 l

Dugaan Korupsi dan Modus Operandi

Kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah ini menyeret beberapa pejabat Pertamina, antara lain:

  • Riva Siahaan (RS) – Dirut PT Pertamina Patra Niaga
  • Sani Dinar Saifuddin (SDS) – Direktur Feedstock dan Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional
  • Yoki Firnandi (YF) – Direktur Utama PT Pertamina International Shipping
  • Agus Purwono (AP) – VP Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional

Kasus ini bermula dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 42 Tahun 2018 yang mewajibkan PT Pertamina memprioritaskan pasokan minyak mentah dari dalam negeri. Namun, hasil penyidikan Kejaksaan Agung mengungkapkan bahwa para tersangka mengondisikan rapat optimalisasi hilir untuk menurunkan produksi kilang, sehingga minyak bumi dalam negeri tidak terserap seluruhnya.

Akibatnya, kebutuhan minyak mentah dipenuhi melalui impor, yang melawan hukum. Selain itu, para tersangka juga memenangkan broker tertentu dengan cara ilegal dan melakukan mark-up kontrak pengiriman yang mengakibatkan negara harus membayar fee 13-15%.

Kasus ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp193,7 triliun.

Pertamina Pastikan Tidak Ada Pengoplosan Pertamax

Menanggapi isu di media sosial yang menyebut bahwa Pertamax sebenarnya memiliki kualitas RON 90, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menegaskan bahwa BBM yang dijual ke masyarakat tetap sesuai dengan spesifikasinya masing-masing.

“Bisa kami pastikan bahwa produk yang sampai ke masyarakat itu sesuai dengan speknya masing-masing. RON 92 adalah Pertamax, RON 90 adalah Pertalite,” ujar Fadjar di Gedung DPD, Jakarta, Selasa (25/2/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa tidak ada praktik pengoplosan BBM untuk meningkatkan kadar oktan secara ilegal. Yang menjadi objek pemeriksaan Kejaksaan Agung adalah praktik impor RON 90 yang seharusnya RON 92, bukan oplosan di tingkat distribusi.

“Jadi bukan adanya oplosan, sehingga mungkin narasi yang keluar menyebabkan misinformasi,” tambahnya.

Meskipun kasus dugaan korupsi ini mencuat, Pertamina memastikan bahwa Pertamax (RON 92) yang dijual kepada masyarakat tetap sesuai dengan standar. Kejaksaan Agung saat ini masih menyelidiki kasus tersebut untuk mengungkap lebih lanjut bagaimana praktik manipulasi impor minyak mentah dan produk kilang ini dilakukan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version