General News
Gempar Soekarnoputra: Retreat Kepala Daerah Bersifat Pilihan atau Tidak Wajib

SPILLS.CO.ID, Jakarta – Retreat atau pembekalan bagi ratusan kepala daerah pemenang Pilkada 2024 yang digagas oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto telah berlangsung sejak Jumat (21/2/2025). Acara ini direncanakan berlangsung hingga Jumat (28/2/2025) di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah. Selama kegiatan ini, para kepala daerah akan menerima materi dari puluhan menteri, Lemhannas, serta arahan langsung dari Presiden Prabowo.
Sebanyak 53 kepala daerah dinyatakan tidak hadir pada hari pertama orientasi. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, dalam konferensi pers di lokasi acara pada Jumat (21/2/2025).
Awalnya, Bima menyebut ada 55 kepala daerah yang absen, namun dua kepala daerah dari Papua kemudian hadir di tengah jalannya konferensi pers. Dari 53 yang tidak hadir, enam di antaranya memberikan surat izin karena alasan sakit atau acara keluarga.
“Artinya, ada 47 kepala daerah yang tidak memberikan kabar,” ujar Bima.
Instruksi PDIP untuk Menunda Keikutsertaan
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menginstruksikan seluruh kepala daerah dari partainya untuk menunda keikutsertaan dalam retreat di Akademi Militer Magelang. Keputusan ini merupakan buntut dari penahanan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Instruksi ini masih berlaku hingga Jumat (22/2/2025) malam setelah PDIP menggelar rapat internal selama tiga jam di kediaman Megawati.
“Soal surat instruksi penundaan retreat, sampai sekarang masih berlaku,” ujar Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, saat meninggalkan kediaman Megawati malam itu.
Instruksi tersebut berbunyi:
“Diinstruksikan kepada seluruh kepala daerah dan wakil kepala daerah PDIP untuk menunda perjalanan menuju Magelang dalam rangka mengikuti retreat pada 21-28 Februari 2025. Sekiranya telah dalam perjalanan menuju Kota Magelang, agar berhenti dan menunggu arahan lebih lanjut dari Ketua Umum.”
Pendapat Gempar Soekarnoputra Mengenai Retreat Kepala Daerah
Terkait retreat ini, politikus Gempar Soekarnoputra menyampaikan pandangannya bahwa kegiatan tersebut bersifat fakultatif, bukan imperatif atau wajib, karena bukan perintah Undang-Undang atau Konstitusi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Namun, ia juga menekankan pentingnya arahan politik dari partai yang menaungi kepala daerah, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
“Seorang kader partai harus taat terhadap kebijakan partai, karena partai politik adalah kendaraan politik yang mengusung mereka dalam Pilkada. Semua partai memiliki aturan yang harus ditaati kadernya,” ujar Gempar.
Ia mencontohkan bagaimana kader Partai Gerindra juga wajib menaati instruksi dari Ketua Umum DPP Gerindra, Prabowo Subianto. Menurutnya, hal ini serupa dengan sistem komando di institusi TNI dan Polri, di mana perintah atasan harus dijalankan oleh bawahan.
Profil Gempar Soekarnoputra
Gempar Soekarnoputra adalah seorang politikus yang mengklaim sebagai putra dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Berdasarkan pengakuannya, ia merupakan anak dari Jetje Langelo, seorang perempuan asal Manado yang dinikahi Soekarno pada 1957.
Sejak kecil hingga dewasa, ia dikenal dengan nama Charles Christoffel. Lahir di Rumah Sakit Hermana Lembean, Minahasa, ia memiliki nama lahir Leonard Alexander Charles Christoffel.
Gempar baru mengetahui bahwa dirinya adalah putra Soekarno setelah 40 tahun. Sang ibu merahasiakan identitasnya atas amanat langsung dari Soekarno, yang khawatir akan keselamatan anaknya jika kekuasaannya runtuh.
Pada Mei 1998, saat gelombang demonstrasi besar menuntut kejatuhan Soeharto, Jetje melihat putranya berada di antara massa mahasiswa di Gedung DPR/MPR. Ia kemudian memanggilnya pulang dan mengungkapkan rahasia besar yang selama ini disimpan.
Ketika pulang pada Desember 1999, Charles melihat sejumlah foto ibunya bersama Soekarno di dinding rumah. Saat itulah Jetje mengatakan, “Kamu adalah anak Soekarno.”
Sebagai bukti, Jetje menunjukkan berbagai dokumen, surat, foto, tongkat komando, keris, serta amanat tertulis dari Soekarno yang menyebutkan bahwa anak laki-laki yang lahir pada 13 Januari 1958 itu harus dinamai Muhammad Fatahillah Gempar Soekarnoputra saat dewasa.
Setelah mengetahui asal-usulnya, langkah pertama Gempar adalah mengunjungi makam Soekarno di Blitar. Ia kemudian memeluk agama Islam di sebuah masjid di kawasan pemakaman raja-raja Jawa di Imogiri.
Gempar sempat diminta oleh Guruh Soekarnoputra untuk menjalani tes DNA guna memastikan kebenaran pengakuannya. Ia bersedia melakukan tes tersebut dengan syarat dilakukan secara terbuka dan didampingi dokter dari Universitas Indonesia. Hingga kini, hasil tes DNA tersebut tidak pernah terungkap ke publik, dan tidak ada perlawanan dari keluarga besar Soekarno terhadap pengakuan Gempar.
Dengan identitas dan legalitas barunya, Gempar Soekarnoputra melanjutkan perjalanan hidupnya di dunia politik dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan.