Spills News
Kasus Dugaan Penipuan Umrah PT Hasan Berkah Wisata Bergulir, Korban Tuntut Penuntasan

SPILLS.CO.ID, Sukabumi –Dugaan penipuan umrah yang terjadi pada November 2025 dan menyeret nama PT Hasan Berkah Wisata terus bergulir. Laporan resmi atas kasus tersebut telah dilayangkan ke Polres Sukabumi pada Desember 2025.
Pada Rabu (25/2/2026), kuasa hukum korban, Apriyanto, S.H., kembali mendatangi Mapolres Sukabumi untuk menanyakan perkembangan penanganan perkara. Ia menyampaikan bahwa Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) telah diterima dan perkara sudah dilakukan gelar.
“Kejadiannya bulan November 2025 dan kami laporkan resmi bulan Desember 2025. Hari ini kami datang untuk mempertanyakan perkembangannya. Alhamdulillah SP2HP sudah keluar dan perkara sudah digelar,” ujar Apriyanto kepada wartawan.
Terungkap di Bandara, Visa dan Tiket Diduga Palsu
Peristiwa bermula ketika H. Ucup Junansyah alias Haji Dodi diminta merekrut jemaah oleh pihak PT Hasan Berkah Wisata yang disebut dipimpin Agung Herdiansyah dan beralamat di Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi.
Sebanyak 14 calon jemaah berhasil dihimpun dengan biaya sekitar Rp30 juta per orang, sehingga total dana yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp300 juta.
Namun saat jadwal keberangkatan pada November 2025, para jemaah justru terlantar di Bandara Soekarno-Hatta selama empat hari.
“Setelah dicek, visa diduga palsu, tiket diduga palsu, dan dokumen perjalanan diduga hasil editan. Dari situlah dugaan penipuan ini terungkap,” kata Apriyanto.
Talangi Hingga Rp500 Juta Demi Tanggung Jawab Moral
Merasa ikut bertanggung jawab atas nasib para jemaah yang direkrutnya, Haji Dodi mengambil langkah dengan menalangi biaya keberangkatan ulang.
Menurut kuasa hukum, karena harus membeli tiket secara mendadak dan mengurus ulang seluruh dokumen perjalanan, total dana yang dikeluarkan kliennya mencapai sekitar Rp500 juta.
Apriyanto menambahkan, proses hukum masih berjalan dan penyidik telah melayangkan surat panggilan kepada terlapor.
“Surat panggilan kedua sudah dikirim, bahkan surat penjemputan juga sudah diterbitkan. Namun hingga saat ini terlapor belum diketahui keberadaannya,” ujarnya.
“Empat Hari Kami Menangis di Bandara”
Haji Ucup Junansyah alias Haji Dodi mengaku peristiwa tersebut menjadi pukulan berat dalam hidupnya.
“Kami empat hari di bandara. Jemaah sudah siap semua untuk ibadah. Kami sampai menangis di sana. Beban moralnya luar biasa,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa selain kerugian materi ratusan juta rupiah, tekanan batin menjadi hal paling berat yang dirasakan.
“Ada jemaah yang sudah jual sawah, jual tanah demi berangkat umrah. Kami merasa hancur kalau tidak memberangkatkan mereka,” katanya.
Menurutnya, keputusan menalangi biaya keberangkatan bukan hal mudah, namun dilakukan demi menjaga amanah dan tanggung jawab moral.
“Kami tidak mau lari dari tanggung jawab. Kami tidak bisa membiarkan mereka gagal berangkat,” tegasnya.
Keluarga Mengaku Merasa Ditipu dan Dipermalukan
Julpat, menantu Haji Ucup yang turut terlibat dalam perekrutan jemaah dan mengaku sebagai korban, menyebut dugaan penipuan ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mencoreng nama baik keluarga di masyarakat.
“Awalnya kami diminta mencari jemaah, dijanjikan bonus dan bantuan perizinan travel. Tapi kenyataannya seperti ini. Kami merasa ditipu dan dipermalukan di depan masyarakat,” ujarnya.
Ia mengaku kondisi mental keluarga sangat terpukul saat para jemaah terlantar di bandara.
“Empat hari kami di bandara, tidak tahu harus bagaimana. Jujur, kami sempat tidak ingin pulang karena malu dan merasa gagal. Itu beban yang sangat berat,” katanya.
Julpat berharap aparat penegak hukum menuntaskan kasus tersebut agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.
“Kami mohon ini diusut tuntas. Jangan sampai ada lagi masyarakat kecil yang niat ibadah malah jadi korban dugaan penipuan,” tandasnya.